Persalinan Di Awal Pandemi Covid-19

Sudah setahun lebih pandemi covid19 melanda Indonesia. Hingga saat inipun masih teringat cerita persalinan diawal pandei yang begitu banyak menguras hati dan air mata.

Menjadi orang tua perdana sekaligus seorang ibu tentunya merupakan sebuah pengalaman yang begitu berharga dan akan selamanya membekas dihati.

persalinan di awal pandemi covid-19

Aranissa Nurul Zaida, itulah nama anak pertama kami yang lahir dengan metode caesar, meskipun sebelumnya aku pribadi sudah mengikuti berbagai olahraga hingga senam hamil agar bisa melahirkan dengan normal.

Bahkan sejak awal pandemi mulai melanda, aku sudah menjaga menerapkan protokol kesehatan dengan selalu memakai masker dan membawa hand sanitazer saat keluar rumah, demi menjaga kesehatan kami berdua.

Namun tuhan memberikan kami cerita berbeda, bermula ketika H-7 kami ke puskesmas untuk melakukan rapid test. Memang kami berencana melahirkan di Puskesmas terdekat, karena layanan kesehatan tersebut memiliki fasilitas lengkap dan layanan darurat 24 jam.

Persalinan Diawal Pandemi Virus Corona

Bermula Dari Rapid Test REAKTIF

Pagi itu aku diantar suami untuk melakukan test, singkat cerita hasil rapid menunjukkan tanda-tanda reaktif, yang berarti bahwa orang tersebut kemungkinan besar terjangkit virus corona.

Kemudian dokter kandungan yang selama ini memeriksaku menyodorkan surat rujukan ke salah satu rumah sakit besar di kota kami untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Tanpa banyak berpikir, aku dan suami pun berangkat ke RS tersebut karena memang pihak Puskesmas memberitahu kami bahwa staff rumah sakit tersebut sudah menunggu.

Dijalan aku dan suami mengobrol, aku hanya penasaran sekaligus takut kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hingga akhirnya aku sampai dan kemudian aku dibawa disebuah ruangan dengan fasilitas lengkap seperti AC, Televisi, Kulkas, Dll.

Saat itu suami menunggu diluar, karena memang tidak diperbolehkan menunggu didalam. Aku hanya berpikir positif karena hanya akan melakukan test virus lebih lanjut.

Pertanyaan Tak Terduga Dari Suster

Sekitar setengah jam menunggu petugas pemeriksaan, aku hanya ditemani suami melalui video call. Kemudian tepat 1 jam menunggu, akhirnya petugas yang akan melakukan pemeriksaan masuk.

Hal yang tidak terbayangkan sebelumnya dan tidak terduga adalah, ketika suster tersebut melakukan test swab ia juga bertanya " Oh ini mbaknya yang nanti sore operasi ya ? ".

Dengan perasaan bingung dan takut, aku menjawab " loh, aku malah ga tau itu sus. tadi dari puskesmas cuman bilang kalau hanya akan melakukan test lebih lanjut ".

Kemudian dengan sabar suster tersebut menjelaskan akan dilakukan operasi caesar sore nanti, demi keamanan dan kesehatan janin serta ibunya.

Beberapa Jam Sebelum Operasi

Setelah suster tersebut selesai melakukan pemeriksaan dan pergi. Aku menangis dan takut, kemudian aku menelepon suami, sambil menangis aku memberitahunya bahwa nanti sore aku akan operasi caesar.

Suami pun juga kaget, karena ia juga mendengar sendiri dari dokter saat di Puskemas bahwa hanya akan melakukan test swap. Hingga akhirnya suami berusaha menenangkanku agar tidak menangis lagi dan sabar.

Masih jelas teringat kala itu, kata suamiku saat berusaha menenangkanku yang seolah - olah meringankan rasa takutku adalah " Yowes Geg Meneng, Malah Beneran Ndang Ketemu Adek ". Jika diartikan kedalam bahasa indonesia adalah " Yasudah jangan menangis lagi, Malah Cepat Bertemu Adek ".

Seketika itu aku tertawa sambil masih tetap menangis. Tidak menyangka bahwa kata yang digunakan untuk menyemangatiku begitu logis dan sesederhana itu tapi penuh makna.

Dan aku juga selalu percaya bahwa Tuhan Tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya.

Proses Operasi

Hingga akhirnya proses yang sudah kutunggu - tunggu akhirnya tiba, Tepat jam 6 aku masuk ruang operasi. Namun Perasaan ini kembali dibuat berdebar, karena dokter yang akan membantu proses persalinan sedang menangani pasien darurat yang membutuhkan penanganan secepatnya

Selama 1 jam aku menunggu dengan perasaan tak menentu, cemas, takut, tidak sabar, semua tercampur aduk, sedangkan aku hanya bisa menghibur diri dengan pemandangan ruangan operasi.

Tepat jam 7 dokter tiba, dan semua pembantu dokter memulai semua prosedur ceasar, hingga akhirnya suntikan bius mulai diberikan.

Saat itu samar - samar aku masih bisa merasakan perutku dioperasi, hingga tidak berselang lama perawat menunjukkan bayi yang masih berwarna merah kepadaku. Dengan setengah sadar aku melihat bayi tersebut.

Dengan perasaan lega dan rasa syukur, akhirnya pada tanggal 27 Juni 2019 Anak perempuanku lahir dengan selamat tepat pukul 19.20 WIB.

kelahiran anak pertama kami

Pasca Operasi

Aku tidak pernah menyangka bahwa akan melahirkan dengan banyaknya drama seperti ini. Tidak sampai disitu, setelah itu jam 20.30 aku kembali ke ruang inap aku bertanya kepada perawat " Dimana Bayiku ? ".

Setelah diberi tahu perawat bahwa anakku berada diruangan lain, ia juga memberitahu bahwa bayiku juga harus menjalani prosedur swap.

Tanpa banyak bicara aku hanya bisa menangis, aku tidak tega membayangkan bahwa anakku yang baru lahir, harus merasakan sakitnya melakukan test swap.

Sesaat setelah itu, tepat jam 21.00 aku memberi kabar suami dan keluarga bahwa proses operasi lancar dan bayi lahir dengan selamat. Namun aku hanya dapat berbagi rasa sakit kepada suamiku saat harus memberitunya bahwa zaida juga harus di swap.

Aku tidak dapat berhenti menangis malam itu karena terbayang anakku harus merasakan sakit untuk pertama kalinya seusai dia terlahir di dunia ini. Hingga tanpa kusadari aku terlelap dengan sendirinya.

Payudara Terasa Sakit

Keesokan harinya, aku kembali menangis. Kedua payudaraku terasa sakit dan kencang, aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi, karena aku hanya tahu bahwa harus segera memberikan ASI kepada anakku, tanpa penah belajar bagaimana cara merawat payudara setelah melahirkan.

Hingga akhirnya aku mulai menjelajah di mesin pencari dan akhirnya menemukan salah satu artikel ibupedia terkait cairan emas yang sangat berharga untuk bayi yang bernama Kolostrum.

Aku yakin ini adalah kolostrum, karena selama kehamilan aku tidak pernah merasakan kencangnya dan sakitnya payudara pagi itu, dan itu merupakan pertama kalinya aku merasakanntya.

Setelah membaca sesaat, aku menjadi tahu, bahkan informasinya juga sangat jelas tentang bagaimana apabila kita kesulitan menyusui seperti keadaanku saat itu.

Akhirnya aku mengikuti panduan yang ada didalamnya untuk mengeluarkan kolostrum dengan tangan dan alhamdulillah di ruang rawat inapku terdapat kulkas dengan freezer yang kemudian cairan tersebut aku bekukan.

pasca operasi

Namun, sayang sekali, aku hanya bisa membekukanya dan tidak bisa memberikan ke anakku, karena dari rumah sakit tidak memperbolehkannya dengan alasan hasil test swap ku belum keluar, dan zaida hanya bisa diberi susu formula.

Hasil Swap Negatif

Selama tiga hari dirawat di rumah sakit, aku merasa selalu sedih ketika teringat zaida, karena tidak bisa melihat bayik dan hanya dapat melihatnya dari foto yang kudapat dari perawat.

Akhirnya hasil swap menunjukkan tanda NEGATIF, alhamdulillah aku dapat pulang dengan zaida. Namun masalah tidak berhenti sampai disitu.

Dulu sebelum anak kami lahir, aku dan suami memutuskan untuk memberikan ASI eksklusif, dan suami menyuruhku untuk berhenti bekerja.

Aku menerimanya, karena suamiku ingin aku membesarkan anakku dibawah pengawasanku, sekalipun kami masih serumah dengan mertua.

Bayi Bingung Puting

Saat pertama kali sampai di rumah, hal pertama kali yang ingin sekali kulakukan adalah menyusui anakku. namun sayang sekali, saat di rumah sakit selama 3 hari, zaida hanya mengenal empeng ( dot susu ).

Jadi saat aku menyodorkan putingku, dia bingung dan selalu mendorong keluar putingku, seolah - olah tidak menginginkannya, mulai dari sini aku panik, dan tidak tau harus bagaimana, karena sudah berkali - kali aku sodorkan, dan berulang - ulang kali pula putingku di dorong keluar.

Hingga akhirnya aku sadar dan teringat kembali saat dimana aku mengalami untuk pertama kalinya sakit dan kencangnya payudara.

Tanpa banyak berpikir panjang, aku mulai membuka ibupedia dan menggunakan fitur pencariannya, hingga akhirnya aku menemukan informasi terkait bagaimana mengatasi bayi bingung puting.

Singkat cerita, anak kami zaida sudah berumur 1 tahun, masih jelas terasa bagaimana rasanya melakukan persalinan diawal pandemi covid19 yang penuh dengan drama kesedihan hingga terharu saat pertama kali menggendongnya.

Namun, melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan selama 1 tahun ini, seolah - olah semua rasa sakit saat itu hanyalah tanda - tanda awal dari kebahagiaan untuk aku dan keluargaku.