Pengalaman Melahirkan Dengan Rapid Test REAKTIF Covid-19

Ini merupakan pengalaman pribadi melahirkan ditengah pandemi Covid-19 dengan hasil rapid test menunjukkan REAKTIF.

Hal ini dialami oleh istri saya pribadi selaku penulis, yang tidak menyangka bahwa akan melahirkan disalah satu ruang isolasi bercampur dengan pasien penderita covid-19.

Pengalaman melahirkan hasil rapid test REAKTIF


Awalnya istri berharap dapat melakukan persalinan normal dengan keyakinan bahwa sakit saat proses melahirkan tetapi dapat segera beraktifitas.

Ini merupakan kehamilan pertama bagi istriku, yang tentu saja kami sekeluarga menunggu datangnya buah hati.

Tapi Tuhan berhendak lain, dengan cara menguji setiap kesabaran dan ketabahan kami dalam menunggu si buah hati.

Melahirkan Ditengah Pandemi Virus Corona Covid-19

Periksa Ke Puskesmas

Singkat cerita diakhir mendekati HPL kami memeriksakan diri ke puskesmas dengan berharap dapat melahirkan di unit pelayanan kesehatan pertama tersebut.

Namun prosedur puskesmas dalam menerima persalinan normal adalah dengan melakukan rapid test.

Sabtu pagi tanggal 27 Juli 2020 istri melakukan rapid test, kemudian jam 11 siang hasil test sudah keluar dan istri mendapat pesan singkat whatsapp untuk mengambil hasil test.

Namun, tidak disangka bahwa hasil test menunjukkan hasil REAKTIF yang menandakan bahwa ada indikasi antibodi melawan virus tersebut sudah ada di dalam tubuh.

Rujukan ke Rumah Sakit

Setelah hasil rapid test menunjukkan reaktif, siang itu juga kami disarankan melakukan test swab dan mendapat rujukan ke RS. Kasih Ibu Surakarta (Solo).

Karena aku hanya berpikir untuk melakukan test swab agar kedepannya dapat melakukan persalinan normal di puskesmas yang tidak jauh dari rumah, tanpa membaca surat rujukan kami langsung pergi ke RS tanpa pikir panjang.

IGD di Rumah Sakit

Sesaat kemudian kami sampai ke RS. Kasih Ibu dan langsung menuju Instalasi Gawat Darurat yang sebelumnya sudah dihubungi oleh pihak puskesmas bahwa kami akan datang.

Tidak berselang lama seorang perawat perempuan berpakaian lengkap seperti astronot menjemput kami.

Tanpa diduga, untuk melakukan test swab yang sebelumnya rapid test menunjukkan reaktif istri harus di isolasi layak.nya seorang penderita covid-19.

Tentu saja aku tidak berkecil hati karna memang begitulah prosedur rumah sakit, yang terpenting dalam benakku istri dan anakku bisa selamat dan sehat semua.

Sesaat kemudian, istri berada dalam 1 ruangan dengan fasilitas lengkap layaknya VVIP seperti ada tv, kulkas, kamar AC, kamar mandi dalam  dll.

Dan aku pun hanya bisa menunggu di luar, karena memang ruangan tersebut merupakan tempat isolasi covid-19.

Selang 1 jam kepanikan mulai terjadi karena salah satu perawat menanyakan kepada istri " Ibu yang nanti sore operasi ya ?"

Istri heran dan menanyakan balik, karena kami juga tidak mendapat berita atau informasi dari puskesmas kalau akan melakukan operasi caesar.

Dikarenakan kami tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa meyakinkan istri "yasudah mau gimana lagi, malah bisa cepat ketemu dedek" ungkapku via Video Call Whatsapp.

Proses Persalinan Operasi Caesar

Setelah melalui serangkaian syarat operasi seperti harus puasa terlebih dahulu, dll. Jam 7 mulai masuk ruang operasi, dan aku hanya bisa memberi semangat sebelum dia masuk ruang operasi melalui WA.

Hati siapa yang tidak sedih istri melahirkan sendiri tanpa di dampingi baik itu sebelum ataupun sesudah caesar, dan semua dilakukannya sendiri.

Dan Alhamdulillah, proses caesar berjalan lancar tanpa ada kendala baik ibu ataupun bayi semuanya sehat.

Pasca operasi inilah yang benar-benar membuat sedih, karena kita hanya bisa mendengar keluh kesah istri kesakitan ataupun lainnya dan hanya bisa menonton lewat Vcall sembari memberi semangat.

Pasca Operasi

Disisi lain, aku pribadi salut dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak RS. Kasih Ibu, karena kami hanya bisa menggunakan BPJS tetapi mendapat pelayanan yang berkualitas.

Karena untuk operasi caesar tanpa menggunakan BPJS tentu saja akan memakan biaya yang tidak sedikit dan bisa mencapai puluhan juta.

Senin tanggal 29 Juni 2020 istri harus melakukan test swab yang kedua, dan dedek bayi juga melakukan test swab yang pertama.

Hingga pada akhirnya selasa 30 Juni 2020 sekitar jam 18.00 istri diperbolehkan pulang dengan hasil swab test pertama NEGATIF, namun karena adek bayi mengalami sedikit warna kuning harus menjalani perawat dan harus tinggal di RS terlebih dahulu.

Kesimpulan

Ini merupakan pengalaman pribadi saya dan istri yang baru saja terjadi beberapa hari kemarin sejak tulisan ini dipublikasikan.

Saya selaku sebagai seorang suami, hanya dapat berpesan kepada para suami atau calon ayah diluar sana apabila mengalami kejadian yang sama, untuk lebih bersabar dan tabah.

Yakinlah bahwa pelayanan yang diberikan akan memenuhi semua ekspektasi kita.

Dan untuk para ibu hamil, apabila hasil rapid test menunjukkan REAKTIF jangan takut. Karena hampir sebagian ibu hamil pasti reaktif ketika di test rapid.

Yakinlah bahwa kalian tidak sendirian, tetap berpikir positif dan jangan panik.

Hingga semua perjuangan tersebut akan terbayar dengan hadirnya adek bayi yang akan melengkapi keluarga kita.

Semoga pengalaman istri yang melahirkan ditengah pendemi ini dapat bermanfaat untuk ibu hamil atau calon ayah dalam mencari informasi melahirkan di tengah virus Covid-19.

Jangan sungkan bertanya dikolom komentar, Insya Allah saya jawab

Tidak ada komentar untuk "Pengalaman Melahirkan Dengan Rapid Test REAKTIF Covid-19"